"Jika bumi masih bisa kuat dan tahan menampung orang dan semua tingkah mereka yang ada di dalamnya. Mengapa harus lemah untuk menghadapi hidup dan memberikan yang terbaik dari apa yang aku bisa"Tidak. Badan mereka tidak menggunakan parfum. Tapi wangi keringat terasa menyegarkan nurani yang ingin mengambil pelajaran hidup darinya. Bahwa hidup bukan untuk orang-orang cengeng. Bukan pula untuk orang yang lebih senang mengeluh berharap simpati daripada menutup mulut dan terus bekerja.
Tidak. Mereka tidak mengenakan kebaya hari ini. Mereka hanya menyelempangkan selendang dan menyingsingkan lengan baju. Bahwa hari ini mereka harus mulai lagi bekerja keras. Tidak ada yang istimewa. Sebagaimana keseharian mereka. Tidak bekerja berarti mereka tidak makan.
Tidak. Mereka tidak lupa bahwa hari ini adalah Hari Kartini. Hari untuk memperingati perjuangan pendekar kaum wanita Indonesia. Tapi jangan tanya bagaimana mereka harus mengenalnya. Yang mereka tahu, Kartini itu adalah contoh kaum perempuan yang memenuhi kebutuhan mereka secara mandiri. Titik.
***
Seperti Ibu Sarimah, usianya sudah 60 tahun. Di usianya yang senja, ia hidup sendirian. Anaknya cuma satu yang tinggal di Palembang. Selebihnya jauh merantau. Sekali dalam sebulan datang mengantarkan sedikit uang untuk membayar listrik dan keperluan lain. Sehari-hari, untuk menutupi kebutuhan makannya, ia berkeliling menjual sayuran. "Sejak suami meninggal, aku tinggal di rumah sendirian. Dari jualan sayur itu, saya masih bisa menabung. Andai tidak ada yang berhutang hari itu, mungkin penghasilanku bisa 15 - 20 ribu", ungkapnya.
Dari uang itulah yang bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Setiap hari ia menjajakan dagangannya dari lorong ke lorong, sejak pukul 7 pagi hingga pukul 10.
"Aku hanya tak ingin merepotkan anak-anakku. Karena mereka sendiri sudah repot dengan kehidupannya masing-masing. Selagi aku bisa menghidupi diriku sendiri, maka aku akan berusaha. Tidak tahu apakah untung atau rugi, tapi yang pasti kalau makan mau bersayur atau berlauk, tidak harus keluar uang lagi. Itu kalau jualannya tidak habis hari itu". Memang, kadang-kadang jualanan si ibu tidak habis, kadang pula sakit tua tiba-tiba datang, sehingga membuat dia yang lemah pun bertambah lemah. Untuk itulah ia mendaftarkan diri sebagai member LKC dan telah merasakan manfaatnya.
***
Ada juga Ibu Nurbaiti (46) yang masih setia menjalani hidup sebagai penjual mainan dan makanan anak-anak lebih dari 10 tahun lamanya. Ia berusaha sendiri untuk menghidupi ketiga anaknya setelah suaminya meninggal. Tiap paginya, ia harus mendorong gerobak barang dagangan hingga ke satu SD ditemani anaknya yang sekarang duduk di kelas 6.
Berjualan mainan, menunggu anak-anak sekolah membeli dan pulang jam 12-an. Pulang ke rumah hanya untuk shalat dan makan. Setelah itu berlanjut untuk bantu-bantu di rumah orang; mencuci, setrika pakaian dan lain-lain. "Awal jualan hanya ikut mertua, dan tidak terasa sudah 10 tahun saya menjalaninya. Alhamdulillah, ditambah mengambil upahan, saya bisa menghidupi keluarga, tanpa almarhum suami," ujarnya tegar. Ia mengaku terinspirasi dari kehidupan mertuanya, yang mempu menghidupi ketiga anaknya (iparnya) sampai berhasil, hanya dari jualan mainan. Cita-citanya, tiga orang anaknya bisa berhasil dalam hidupnya.
***
Perjuangan tidak selalu harus ada di luar rumah. Tapi mereka pun masih bisa berbuat dari dalam rumah. Asal tetap dapat memberikan manfaat.
Tapsiah (43), masih merasa beruntung bisa menekuni pekerjaan sebagai penjahit sarung bantal. Dari pekerjaannya ini, ia bisa menghidupi sembilan orang anaknya dengan dibantu suaminya. Selain harus membuat sarung bantal tiap harinya, ibu Tapsiah juga masih harus menjaga anak bayinya yang masih berusia 6 bulan. Tidak hanya menjahit pesanan, tetapi juga untuk dijual sendiri. "Kami dak nak neko-neko, alhamdulillah anak-anak juga begitu." Dan berharap anak-anaknya bisa hidup layak. "
Anak kami memang banyak. Dan kami yakin itu adalah rizki yang Allah berikan kepada kami. Sesekali memang ada yang bertanya, 'Banyak amat anakmu, emang sanggup memelihara semuanya?' Saya Cuma tersenyum, 'Ya. Yakin saja', "tuturnya. Dan katanya, biasanya mereka langsung diam, tidak melanjutkan omongan. Tidak tahu, apakah mereka mengerti dengan jawabannya atau tidak. "Toh, saya yang menjalani bukan mereka", ujarnya tersenyum.
Tak mau kalah dengan ibu-ibu yang lain. Ibu yang satu ini pun memiliki mimpi menjadi wirausaha muslim dalam bidang konveksi. Karena itu dia mewujudkan mimpinya dengan menerima pesanan jahit dan mencari peluang usaha - beliau mau membuka kursus jahit. Tri Muhani (35) adalah contoh wanita mandiri yang tak ingin berdiam saja. Dari mula-mula hanya terlontar niat saja, saat ini Tri sudah memiliki usaha jahit sendiri dan pelanggan setianya. "Sempat ketika saya sakit cukup lama - karena kecapekan dan keguguran anak ke empat , saya kembalikan upahan jahit dari pelanggan. Maksudnya, biar mereka mengupah dengan orang lain saja," tuturnya. Ternyata, begitu tahu Tri sudah sehat lagi, mereka justru datang dengan membawa jahitan yang lama. Ketika ia tanya, kenapa tidak menjahit di luar saja. "Mereka malah menjawab upah menjahit saya lebih murah dibanding penjahit yang lain. Lagian kalau dengan saya, bila hasil jahit saya ada kurangnya, mereka boleh meminta perbaiki tanpa ada biayanya lagi", ujar salah seorang penerima bantuan modal usaha dari DSIM ini tersenyum.
***
Sosok Kartini sejati sebenarnya banyak kita temui di sekitar kita. Namun, bagus kain kebaya yang digunakan, senyum manis dan aroma wangi yang menyeruak menutup pandangan nurani kita tentang makna Kartini sebenarnya. Kita telah terpakem, bahwa Hari Kartini ditandai dengan penggunaan kebaya. Tidak hanya di lomba-lomba saja. Coba tengok di kantor pemerintahan dan swasta yang melayani kepentingan publik. Semua sibuk memoles muka dengan aneka make-up, mengenakan kebaya terbaik bermanik-manik dan lenggok yang dibuat seanggun mungkin.
Kita lupa dengan nilai Kartini itu sendiri. Kemandirian. Ya, Kartini mengisyaratkan wanita Indonesia adalah wanita yang mandiri di atas kaki sendiri. Seorang istri tangguh yang berdiri di belakang suami memberikan dorongan. Seorang wanita yang tak ingin melewatkan hari tuanya hanya dengan berteman keluh atas penyakit yang dideritanya. Seperti halnya Ibu Sarimah di atas, wajahnya terlihat lebih tua dibanding umurnya. Ia sering mengikuti kegiatan mengaji dalam kelompok pengajian LKC. "Aku mau sehat, Nak, karena aku pengen belajar ngaji."
Sedangkan tiga wanita lainnya penerima manfaat dari Madrasah Umat DSIM berupa bantuan modal usaha kecil. Bantuannya memang tak besar, namun cukup untuk membuat mereka bertahan. Buat mereka, adanya perhatian, sekecil apapun itu, menjadi modal kedua setelah modal utama. Apalagi bantuan tersebut dicicil seringan-ringannya dan tanpa bunga sama sekali.
Merekalah satu dari sekian contoh wanita tangguh dan tak berhenti senantiasa berusaha. Memang sebagian besar dari mereka dibesarkan oleh kondisi yang tak ideal. Mereka tangguh karena ditempa oleh keterpaksaaan keadaan. Mereka tak mau hanya berdiam diri menunggu. Merekalah yang sebenarnya layak disebut Kartini masa kini. Karena mereka menjalani, tak sekedar memperingati.
Jika dahulu Kartini dikenal sebagai wanita yang melawan dari kungkungan keluarga; yang dulu wanita itu identik dengan masalah dapur dan keluarga. Tak boleh mengenyam pendidikan tinggi. Tapi tidak untuk saat ini, wanita boleh mendapatkan pendidikan tinggi setinggi-tingginya, dan berkarir sehebat-hebatnya namun tetap dengan niat karena Allah dan berkerja bersama suami untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Kartini masa kini yang tidak bisa berdiam diri, mencari usaha untuk membantu suami dan mendidik anak-anak agar mereka berbakti, tak akan melepas mereka dari jati diri mereka sebagai wanita sejati. Wanita tangguh itu bukan hanya dengan bekerja di kantor dan duduk, tetapi juga mereka yang harus rela berjalan kaki menantang terik untuk bisa berkontribusi.
Mereka yang terus berjuang tanpa pamrih, dan tanpa puji orang yang melihatnya. Kadang kala mereka hanya dianggap biasa atau bahkan pekerjaan yang mereka lakukan hanya dipandang sebelah mata. Tapi mereka merupakan pahlawan keluarga yang ditunggu kedatangannya.
Mereka bukanlah kebanyakan perempuan yang berkoar-koar meminta persamaan emansipasi. Tapi lupa menghargai kodrat sendiri. Bahwa, ada imam dalam rumah tangga kita, yakni suami. "Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan (suami)-nya jika ia melihatnya, mentaati (suami)-nya jika ia memerintahnya dan ia tidak menyelisihi (suami)-nya dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya." (HR. Ahmad)
Karena itu, wanita harus memiliki batasan sendiri dalam bertindak. Walaupun wanita bisa berusaha mencari penghasilan, itu tidak lain hanya untuk membantu suami dan menambah wawasan dalam kehidupan rumah tangga. Bukan berarti mereka yang bekerja di kantoran itu tidak hebat. Tetapi wanita hebat jika anak-anak yang mereka lahirkan bisa mereka didik dengan baik dan manjadi hebat pula. Sebagaimana ungkapan, baiknya negara dilihat dari baiknya wanita di negara itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar